Recents in Beach

Sejarah Singkat Presidium Alumni 212

Berawal dr Tamasya Almaidah (TAM) yang seharus dilaksanakan oleh Gema Jakarta (sayap perjuangan GNPF yang khusus memenangkan gubernur muslim jakarta) dibawah komando Ustad zaitun Rasmin (UZR) tapi karna pertimbangan satu dan lain hal (terutama pertimbangan keamanan, karna polisi memperingatkan jika terjadi kerusuhan maka para pelaksana TAM akan dimintai pertanggungjawabannya) maka TAM urung dilaksanakan oleh GEMA Jakarta

Namun demikian karna begitu  sangat pentingnya TAM dlm mengawal suara di TPS2 agar tdk terjadi kecurangan2 di pilkada DKI pada putaran kedua (sperti pd putaran pertama dimana banyak sekali terjadi kecurangan2 di TPS2) akhirnya HRS Menunjuk Ustad Sambo & Ustad Hasri sebgai Komandan TAM (karna dianggap berhasil sebagai komandan dlm aksi 313 dgn Aman, Damai & Tertib di bundaran patung kuda, saat ustad Alkhoththoth ditangkap)

Saat itu (seminggu sblum pilkada putaran kedua) awalnya TAM hanya ditangani oleh panitia kecil saja yang anggotanya tdk lebih dr 20 org saja, tapi ada usul supaya panitianya diperbesar anggotanya & akhirnya diputuskan TAM  ditangani oleh alumni 212 saja, karna alumni 212 terlalu besar anggotanya maka diperkecil sedikit tapi tetap menggunakan Alumni 212 & akhirnya jadilah Presidium Alumni 212 (3 hr sebelum Pilkada putaran kedua & deklarasi Presidium Alumni 212 sebagai pelaksana TAM pd tgl 17 April 2017 di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan yang dihadiri oleh tokoh2 sperti Pak Amien Rais, Habib Idrus Jamalul Lail, Eggy Sudjana, Moh Siddik dr DDII dll)

Alhamdulillah dgn pertolongan Allah akhirnya TAM dibawah pelaksana Presidium Alumni 212 yang diketuai oleh Ustad Sambo & Ustad Hasri sbgai sekretaris dpt terlaksana dgn Aman, Damai, Tertib & tdk jadi kerusuhan dan Anis Sandi berhasil memenangkan PILKADA Jakarta

Di dalam perjalanannya demo2 demi demo yang di adakan dlm Aksi Bela Islam setelah 212 & 112 di istiqlal, GNPF sdh tdk ikut dlm aksi2 mulai dr aksi 212 jilid 2, aksi 313 sampai TAM bahkan akhirnya puncaknya adalah dlm aksi 505 dimana aksi yang seharusnya di lakukan di depan Mahkamah Agung malah hanya dipusatkan di Istiqlal saja oleh GNPF, hanya sebagian kecil yang akhirnya melakukan aksi di depan MA, walaupun Aksi di depan MA ini dikuti oleh UBN (UZR dll mengawal massa di Istiqlal agar tdk turun ke MA), tapi nilai ruhiyah perjuangan UBN saat memberikan orasi di depan MA saat itu sdh mulai mengendur

Mulai saat itulah peran Presidium Alumni 212 (cikal bakalnya adalah aksi 212 jilid II, 313 & TAM) semakin besar utk memupuk semangat perjuangan Aksi bela Islam yang mulai agak melemah dibawah komando GNPF, dan gerakan Presidium Alumni 212  ini semuanya direstui oleh HRS agar api (bara) perjuangan menegakkan Surat Almaidah 51 Ini tdk boleh meredup apalagi sampai padam, na'udzubillah

Nah ketika Si penista Agama sdh dikalahkan dlm pilkada & sdh dipenjara maka terjadilah politik balas dendam oleh Rezim Penguasa, dimana ulama2 (HRS, UBN, Alkhoththoth, Munarman dll), aktivis2 (Rachmawati, Kivlan Zein, Adityawarman, Sri Bintang dll) & Ormas Islam sperti HTI yang berperan aktif mengalahkan Ahok di pilkada sampai memenjarakan ahok, mulai dibidik utk dikriminalisasi bahkan Ustad Alkhoththoth dll dipenjarakan sedangkan Habib Rizieq sampe harus mengungsikan keluarganya ke Saudi karna akan dihancurkan kehormatan diri & keluarganya

Saat ulama2 di GNPF sdh banyak yang dikriminalisasi & mereka agak terhambat utk membela diri mereka sendiri, disinilah peran Presidium Alumni 212 semakin besar utk membela para ulama, aktivis2 & Ormas Islam yang tergabung dlm aksi2 bela Islam.

Kalo GNPF dibentuk bertujuan utk mengalahkan Ahok di pilkada & memenjarakan Ahoknya & itu sdh tercapai tapi berakibat pada dikriminalisasi nya tokoh2 GNPF maka Presidium Alumni 212 lah yang mengambil peran utk membela & menyelamatkan para ulama, aktivis2 & Ormas Islam yang dizolimi oleh rezim Penguasa akibat balas dendam karna kalahnya & dipenjarakannya Ahok